Beranda Nasional Relawan Ungkap Ada Pelecehan Seksual di Tenda Pengungsian. Ada Juga Yang Kebelet

Relawan Ungkap Ada Pelecehan Seksual di Tenda Pengungsian. Ada Juga Yang Kebelet

670
0
BERBAGI
pengungsi genpa lombok
relawan mengungkapkan dibutuhkan segera pembangunan hunian sementara karena adanya perilaku pecelahan seksual di tenda pengungsia

Koresponden Koranmerah ( Senen, 17/9)


Kondisi tenda darurat yang didiami lebih dari satu keluarga, menimbulkan sisi lain, khususnya di kalangan perempuan.

“Banyak ibu-ibu dan remaja putri yang terkena gatal-gatal di area vital mereka karena tidak berani mengganti pakaian dalam. Bukan karena tidak ada, tapi mereka takut menggantinya (karena tidak ada tempat khusus, red). Sering hal tersebut dijadikan kesempatan oleh para laki-laki nakal,” tutur Isdiana Putri, relawan dari YDWS Mataram.

Bahkan lebih jauh Dian, nama pendek Isdiana, menuturkan kondisi miris di pengungsian.

Ia mengaku sudah menemukan banyak kasus pelecehan seksual yang dialami para perempuan. Ada juga kasus suami-istri yang terpaksa berhubungan badan di semak-semak,

“Mungkin sudah kebelet, tapi sayangnya diketahui anak-anak,” tuturnya

Ia pun menambahkan lagi tentang kasus pelecehan kepada anak-anak laki-laki (pedophilia, red) yang ditemukannya di wilayah Lombok Barat.

“Kasusnya sudah dilaporkan dan ditangani oleh pihak Lembaga Perlindungan Anak (LPA),” tutur Dian.

Dengan kondisi tersebut,  Dian beserta para relawan lainnya mendesak semua pihak untuk segera membangunkan huntara buat para pengungsi.

Huntara yang dimaksud adalah hunian yang lebih layak dari pada tenda-tenda darurat. Sebisa mungkin huntara tersebut ditempati oleh satu keluarga, sehingga lebih memudahkan juga buat mereka  menguatkan sistem sosial mereka yang menurun akibat tinggal di pengungsian.

“Trauma healing terbaik adalah keluarga, para orang tua. Kalau mereka segera keluar dari pengungsian, dengan sendirinya mereka bisa menata kembali kehidupannya” ujar Agung dari Yayasan Alit Surabaya.

Sementara, pengalaman Muslimin dari MDMC membenarkan pandangan tersebut. Ia mengaku pihaknya telah membangun huntara sebanyak 28 unit di wilayah Kabupaten Lombok Utara.

Menurut Muslimin, huntara bisa menjadi jalan keluar dari banyaknya masalah pengungsi saat kondisi pemulihan ini.

Namun para relawan pun meyakini masyarakat yang terdampak gempa mampu melakukannya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here