Beranda Nasional Ketua Pokdarwis Penujak Ungkap Kondisi Miris Gerabah Penujak Saat Ini

Ketua Pokdarwis Penujak Ungkap Kondisi Miris Gerabah Penujak Saat Ini

359
0
BERBAGI
Ketua Pokdarwis Desa Penujak, Dwi

Koresponden Koranmerah ( Selasa, 23/10)


Kondisi gerabah Penujak di Lombok Tengah, NTB kini tak sejaya era keemasannya. Dulu, hampir semua dusun di Desa Penujak memiliki Art Shop penjualan gerabah. Setidaknya ada 5 dusun yang menjadi sentra kerajinan gerabah di desa Penujak, yakni dusun Tenandun, Adong, Kangi, Tongkeq dan Turu.

Di era jayanya, Warga saat itu meraup untung berlimpah dari penjualan gerabah. Namun kini keadaanya mengenaskan. Art Shop hanya tinggal 3 saja.  Hal ini berimbas pada sepinya tamu yang datang, baik untuk tujuan membeli gerabah maupun para wisatawan yang bertujuan untuk pelesir melihat sentra kerajinan gerabah yang produksinya diekspor itu.  Kondisi yang seperti ini menjadi keperihatinan para pemerhati pariwisata di Desa Penujak.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Penujak, Dwi mengkritik pemerintah daerah Lombok Tengah yang mendiamkan kondisi ini, tanpa berbuat apapun untuk kembali menghidupkan gerabah penujak. Ia mengaku sudah berkonsultasi ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lombok Tengah termasuk Dinas Pariwisata, Namun anehnya pihak dinas tidak menggubris.

“ Kritik saya terhadap pemerintah, seakan akan dibiarkan saja. Tidak ada usaha untuk mengembalikan kejayaan kerajinan gerabah. Okelah kalau tidak ada dana, mungkin motivasi ke kita seperti apa. Mungkin ada dialog, mungkin dewan yang akan mencoba memfasilitasi.” Ungkapnya.

Tak hanya sampai disitu, kondisi lain lebih memperihatinkan, ternyata produksi gerabah Penujak diklaim sebagai hasil kerajinan daerah lain. Dwi menuturkan, gerabah Penujak banyak dikirim ke Banyu Mulek dan Bali. Disana kerajinan Gerabah Penujak dikloning menjadi produk mereka.

 “ Ironisnya memang, masyarakat masih memproduksi, tapi mereka mengirim ke Banyu Mulek dan Bali. Di Penujak dasarnya, seteleh dikirim ke Banyu Mulek, ke Bali baru di finishing. Akhirnya jadi made in Banyu Mulek ataupun Made In Bali.” Ungkap Dwi.

Untuk itu, Dia meminta agar semua pihak turun tangan menghidupkan kembali gerabah Penujak. Ia berharap Pemda dan Dewan serius melihat persoalan mati surinya gerabah Penujak.  Dwi berharap agar Pemerintah segera turun dan membuat perencanaan yang jelas untuk kembali menggairahkan gerabah Penujak.

“ Sekarang kan, kalau ada tamu, Art Shop kita terbatas. Ada 3 Art Shop. Kami usulkan ada pusat penjualan kerajinan yang dibuat oleh Pemda, sehingga disana masyarakat bisa menjajakan kerajinannya.” Pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here