Beranda Publik Politik Pengiriman Pemuda ke Luar Negeri Perlu Akomodir Sektor Kepariwisataan

Pengiriman Pemuda ke Luar Negeri Perlu Akomodir Sektor Kepariwisataan

130
0
BERBAGI
Calon DPD RI, H.Irzani

Koresponden Koranmerah [Minggu,3/3]


Penetapan Sirkuit Mandalika di KEK Mandalika Lombok Tengah sebagai lokasi seri MotoGP 2021 mendatang dinilai sebagai peluang sekaligus tantangan.

Di satu sisi, Lombok sebagai destinasi wisata unggulan nasional akan melejit promosinya hingga ke seluruh dunia, sementara di sisi lain, secara internal di tataran masyarakat dan pelaku wisata di Lombok dan NTB secara umum kesiapan juga harus mulai dibangun.

Calon Anggota DPD RI Nomor Urut 30, H Irzani mengatakan, peningkatan kapasitas dan penguatan sumber daya manusia (SDM) kepariwisatan di daerah ini menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan dengan terukur dan segera.

“Selain berlomba dengan waktu untuk membangun sirkuit MotoGP 2021, kita juga harus mulai terpacu membangun SDM menyambut event international sport tourism itu. Ini harus segera dilakukan,” katanya, Sabtu ( 2/3)

Irzani mengaku bangga dengan keberadaan Poli Teknik Pariwisata (Poltekpar) Negeri Lombok di Lombok Tengah, yang sudah diresmikan dan ke depan akan melahirkan SDM berkualitas di bidang pariwisata.

Ia juga mengapresiasi Pemprov NTB yang sudah memberikan keringanan pembiayaan kepada para mahasiswa Poltekpar Lombok dengan skema
beasiswa penuh.

Namun menurutnya, hal ini masih belum bisa mengakselerasi ketersediaan SDM Pariwisata jika dibanding dengan percepatan pertumbuhan pariwisata
Lombok pasca MotoGP 2021 mendatang.

“Sehingga selain memacu Poltekpar Lombok, harus ada upaya-upaya lain. Misalnya dengan pelatihan dan peningkatan kapasitas Pokdarwis di desatinasi wisata yang melibatkan stakehloders atau organisasi
kepariwisataan,” katanya.

Organisasi kepariwisataan dan Dinas Pariwisata di daerah bisa berkolaborasi memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat di Desa Wisata.

Potensi destinasi baru dan desa wisata di Lombok menurut Irzani harus terus didorong pertumbuhannya. Hal ini perlu dilakukan agar “Roti Pariwisata” yang kelak datang di saat MotoGP mulai diselenggarakan di Lombok, bisa terdistribusi dan dirasakan juga oleh masyarakat Lombok.

“Semangat kepariwisataan kita tentu harus berpihak juga pada pertumbuhan ekonomi masyarakat. Desa wisata ini bisa jadi jawaban, agar roti pariwisata yang besar bisa terdistribusi juga bagi masyarakat,” katanya.

Ia memaparkan, berdasarkan catatan, setiap kali event MotoGP digelar akan mampu menarik tak kurang dari 150 ribu wisatawan yang datang.

Sehingga dalam kurun dua tahun sejak sekarang pembangunan hotel dan sarana amenitas juga terus dikebut di Lombok.

Dengan kesiapan masyarakat dan desa-desa wisata, papar Irzani, ribuan wisatawan dari berbagai negara yang datang bisa memiliki banyak pilihan berwisata, saat datang ke Lombok untuk menyaksikan MotoGP.

Bukan hanya menjual amenitas homestay dan keindahan desa, desa wisata juga mampu menjadi penggerak ekonomi di sektor UMKM misalnya kerajinan dan industri kreatif.

Irzani menambahkan, program 1000 pemuda NTB sekolah ke luar negeri, hendaknya juga mengakomodir pelajar dan mahasiswa yang berminat di bidang kepariwisataan.

“Program pendidikan ke luar negeri ini sudah sangat baik. Akan semakin bagus kalau kepariwisataan juga diakomodir dan didorong,” katanya.

Hal ini juga bisa dilakukan dengan mengakomodir pihak Ponpes yang ada di Lombok. Para santri dan santriwati yang berbakat dan punya minat kepariwisataan bisa ambil bagian.

Setelah menempuh pendidikan kepariwisataan di luar negeri, maka para lulusan ini bisa kembali ke Lombok dan menularkan ilmunya ke yang lain. Mereka juga bisa ditempatkan di desa wisata untuk mendampingi dan membina pengembangan desa wisata tersebut.

Merubah Mindset dan NTB Zero Waste

Irzani mengatakan, selain penyiapan infratruktur dan SDM pariwisata, NTB juga harus mulai merubah mindset masyarakat tentang sampah dan kebersihan.

“Dengan adanya MotoGP ini Lombok akan menjadi destinasi tingkat dunia sehingga standar-standar yang digunakan harus pula bisa menyesuaikan. Misalnya saja soal kebersihan, kita malu lah kalau sampah berserakan. Saya pikir program NTB Zero Waste sudah bagus tinggal bagaimana merubah mindset masyarakat kita,” katanya.

Menurutnya, merubah mindset dan pola pikir soal kebersihan juga bisa dilakukan dengan melibatkan Ponpes dan para santri/satriwati.

Karena itu, Irzani yang juga Sekretaris NW NTB ini mulai menginisiasi program Zero Waste di sejumlah lingkungan Ponpes.

Irzani bertekad menjadikan sektor pariwisata NTB dengan branding wisata halalnya sebagai sektor penguat ekonomi masyarakat.

Sebab baginya multiplier efect kepariwisataan sudah terbukti mampu membuka lapangan kerja dan pertumbuhan sektor UMKM selama ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here