Beranda Traveling dan Wisata Dulu Dikenal ‘Red Zone’, Lalu Buntaran Komitmen Rubah Wajah Desa Ketare

Dulu Dikenal ‘Red Zone’, Lalu Buntaran Komitmen Rubah Wajah Desa Ketare

1266
0
BERBAGI
Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi,  Eko Putro Sandjojo saat lounching desa wisata Adat Ketare. Insert: Kades Ketare, Lalu Buntaran

Koresponden Koranmerah [Kamis, 25/7]


Kepala Desa Ketare, Lalu Buntaran menegaskan dirinya bertekad menjadikan desa Ketare yang ‘ramah’ terhadap semua orang. Hal ini disampaikan Buntaran usai lounching desa Ketare menjadi Desa Wisata Adat yang berada di lingkar bandara Lombok yang dihadiri oleh Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi,  Eko Putro Sandjojo pada Kamis, [25/7].

” Jadi dulu orang mengatakan Ketare Red Zone atau Zona merah, tapi sekarang alhamdulillah semua bukan dari Ketare atau Lombok Tengah, bahkan seluruh dunia sudah merasakan bahwa Ketare merupakan desa yang aman tentram, ramah dan menjaga tamu yang ada disini,” kata Buntaran.

Menurut Buntaran, diperlukan usaha keras untuk merubah image Desa Ketare yang sebelumnya dikenal zona merah tersebut. Berbagai upaya sudah dilakukannya sehingga kini desa yang berada di lingkar bandara itu bisa aman dan nyaman dilewati oleh masyarakat dunia. Salah satu usaha untuk membuat wajah Ketare yang lebih humanis itu dengan cara mendeklarasikan desa Ketare sebagai desa wisata Adat yang menjunjung nilai adat istiadat.

” Waktu periode pertama, kami pernah berkomentar, Ketare akan kami jadikan desa adat, dan pada periode kedua ini, sudah terbukti, Ketare dilounching oleh menteri langsung sebagai desa wisata dan adat,” kata Kades dua priode ini.

Lebih lanjut, Buntaran menjelaskan Ketare sebagai Desa Wisata Adat memiliki khasanah Budaya yang sudah ada ratusan tahun lamanya. Dimulai dari Kedatuan atau Kerajaan Siledendeng yang ada di wilayah selatan Lombok itu. Dimana Kedatuan atau Kerajaan tersebut telah meninggalkan berbagai cagar budaya, seperti ritus makam dan pemandian.

”  Kami disini memiliki wisata alam seperti makam kerajaan, setidaknya ada 4 makam di wilayah Ketare, Ada sumur yang tidak pernah kering mata airnya, yakni Buwun Nine dan Buwun Mame. Konon sejarahnya, kalau yang belum dapat jodoh, jika sudah mandi kesana, dalam waktu dekat dia akan mendapatkan jodoh,” jelas Buntaran.

Cagar Budaya ini akan menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk mengunjungi Desa Ketare. Ia juga menjamin para tamu wisatawan akan merasakan desa Ketare yang kental dengan nilai adat istiadatnya setelah banyak bergaul dengan warga desanya yang hingga saat ini terpelihara dan terjaga dengan baik.

” Kenapa tidak kita bisa jual itu untuk menarik para wisatawan, mudahan kedepan ya pertama image Ketare yang akan berusaha kita dongkrak,” tandasnya.

Sementara itu, Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo pada saat lounching desa wisata adat Ketare diberikan penghargaan berupa gelar kehormatan sebagai Pemban Agung Penata Ning Jagad oleh raja Siledendeng yang juga Kadis Pariwisata Loteng, HL.Putrie.

Acara pemberian gelar ini ditandai dengan dipasangkannya pakaian adat dan diselipkannya keris milik kerajaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here