Beranda Nasional Khidmat Upacara Hari Santri di Loteng: Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia

Khidmat Upacara Hari Santri di Loteng: Santri Indonesia Untuk Perdamaian Dunia

130
0
BERBAGI
Wakil Bupati Loteng, Lalu Pathul Bahri saat memberikan santunan kepada santri anak yatim usai upacara Hari Santri

Koresponden Koranmerah [Selasa, 22/10]


Wakil Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri menjadi irup dalam Upacara memperingati hari santri Nasional yang jatuh pada hari ini, Selasa, 22/10/2019.

Hadir dalam upacara ini, Puluhan Tuan Guru, Kalangan pendidik, dan ribuan santri dari berbagai penjuru di Lombok Tengah. Semua peserta serempak memakai busana berwarna putih. Pelaksanaan upacara digelar di halaman kantor bupati Lombok Tengah yang baru di jalur dua Praya-Puyung.

” Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Penetapan tanggal 22 Oktober merujuk pada tercetusnya “ResolusiJihad” yang berisi fatwa kewajiban berjihad demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik tanggal 10 Nopember 1945 yang kita diperingatisebagai Hari
Pahlawan,” kata Wakil Bupati Lombok Tengah menyampaikan sesui sambutan dimuat oleh Kementerian Agama RI.

Kata Wabup, sejak Hari Santri ditetapkan pada tahun 2015, selalu menyelenggarakan peringatan setiap tahunnya dengan tema yang berbeda. Secara berurutan pada tahun 2016 mengusung tema “Dari Pesantren untuk Indonesia”, tahun 2017 “Wajah Pesantren Wajah Indonesia”, dan tahun 2018 “Bersama Santri Damailah Negeri”. Meneruskan tema tahun 2018, peringatan Hari Santri 2019 mengusung tema “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”.

Isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa
sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian.
Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatanlilalamin, Islam ramah dan moderat dalam beragama. Sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural.

” Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat
terwujud. Semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia,” kata ketua PCNU Lombok Tengah ini.

Setidaknya ada sembilan alasan dan dasar mengapa
pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian, diantaranya Pesantren berkontribusi besar melawan penjajah dan pemberontakan PKI. Selain itu, kehidupan pensatren yang berlandasarkan pada karakter pendidikan berupa mengaji dan mengkaji, sikap kemandirian, pengabdian dan Pesantren menjadi ruang yang kondusif untuk menjaga lokalitas di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan materialistis.

” Prinsip Maslahat (kepentingan umum)
merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh kalangan pesantren. Tidak ada ceritanya orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan masyarakat. Justru kalangan yang membina masyarakat kebanyakan adalah jebolan pesantren, baik itu soal moralmaupun intelektual,” ucapnya.

Untuk itu, hari santri menjadi momentum untuk mengamalkan nilai nilai keislaman dn kebangsaan yangmana Indonesia berperan aktif menjaga perdamaian dunia, tanpa ada penjajahan di muka bumi ini.

” Akhirnya kitajuga patut bersyukur karena dalam peringatan Hari Santri Tahun 2019 ini terasa istimewa dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Dengan Undang-Undang tentang Pesantren ini memastikan bahwa pesantren tidak hanya mengembangkan fungsi pendidikan, tetapi juga mengembangkan fungsi dakwah dan
fungsi pengabdian masyarakat, ” kata Wabup di detik detik pembacaan amanatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here