Beranda Hukum Kriminal Merasa Ketiban Sial, Satu Fasilitator Yang Di-OTT Polres Loteng Ajukan Penangguhan Penahanan

Merasa Ketiban Sial, Satu Fasilitator Yang Di-OTT Polres Loteng Ajukan Penangguhan Penahanan

200
0
BERBAGI

Koresponden Koranmerah [Selasa, 10/12]


Orang tua dan istri dari Doni Bayangkari, tersangka oknum fasilitator asal desa marong, Praya Timur yang sebelumnya ditangkap oleh tim unit tipikor Polres Lombok Tengah pada Rabu 4 Desember 2019 lalu mengajukan penangguhan penahanan terhadap tersangka.

Menurut keluarga Doni yang hadir dalam keterangan persnya, Senin (9/12) menyatakan bahwa Doni tidak terlibat dalam kasus yang diduga memeras pelaksana pembangunan rumah untuk korban gempa di desa Teratak itu.

Doni katanya hanya ditelpon oleh ketua tim fasilitator atas nama Lalu Numansyah yang turut terciduk saat itu untuk kepentingan yang tidak ia ketahui. Ia tidak mengetahui persis akan ada penyerahan uang dari CV pelaksana proyek di rumah bakso MBM Kauman Praya saat penangkapan.

” Tidak ada komunikasi apapun tentang persoalan tersebut apalagi ada permintaan 2 persen setiap rumah, ” kata Thamrin, pengacara Doni.

Oleh karena itu, Thamrin meminta agar Polres Lombok Tengah bisa mengeluarkan Doni dari penjara. Tim kuasa hukum menjamin Doni tidak akan lari dan siap kooperatif dalam pemeriksaan terhadap kasus ini. Terlebih lagi Doni merupakan tulang punggung keluarga yang saat ini istrinya sedang hamil 4 bulan.

 ” Kami siap memenuhi persyaratan yang diberikan oleh kepolisian supaya doni bisa dibebaskan. Selain itu, doni juga tidak bisa dikatakan bersalah karena masih butuh dibuktikan di muka persidangan. Maka berlaku praduga tidak bersalah, ” tandasnya.

Sementara itu istri doni, Baiq Feni Patul Ramdani memohon kepada Kapolres untuk suaminya bisa dilepaskan dari penjara. Ia meyakini suaminya tidak berbuat demikian. Doni hanya ketiban sial berada di lokasi. Doni tidak mengetahui rencana penyerahan uang tersebut.

” Saya yakin suami saya tidak berbuat demikian. Tahulah halal haram,” kata Feni memelas.

Sementara itu, Pihak keluarga, H.M.Supli, menegaskan telah melakukan pengecekan terhadap Doni Bayangkari dan menemukan fakta-fakta bahwa yang bersangkutan sama sekali tidak memiliki keterlibatan pada dugaan kasus pemerasan dan korupsi tersebut.

“Saat kejadian OTT itu, Doni oleh Ketua Fasilitator Lalu Numansyah dan meminta datang ke salah satu rumah makan di Praya untuk mengambil sesutau kepada pemilik CV bernama Johari tanpa mengatakan apa sesuatu itu,”jelasnya.

Lebih lanjut H.M. Supli, saat Doni tiba di lokasi rumah makan yang dimaksud, pemilik CV yakni Johari tidak mau memberikan sesuatu yang ditugaskan untuk diambilnya itu kepada Doni. Saat itu Johari menyatakan kalau Lalu Nurmansyah harus hadir saat menerima sesutau tersebut.

“Lama sekali Doni menunggu Lalu Nurmansyah datang, rupanya Johari hanya mau memberikan sesuatu itu pada Lalu Nurmansyah saja. Dan benar saja sekitar 30 detik setelah transaksi itu, tiba-tiba polisi datang,”ungkapnya.

Saat transaksi berlangsung, Doni Bayangkari sama sekali tidak menyadarinya karena ia saat itu fokus mengutak atik androidnya.

Melihat seminggu sebelum kejadian OTT itu lanjut H.M.Supli, Doni tidak pernah melakukan komunikasi apapun dengan pemilik CV manapun, apalagi akan melakukan dugaan pemerasan yang ditersangkakan.

“Oleh keluarga, masalah ini telah dikuasakan ke kuasa hukum antara lain Advokat atas nama Husni Thamrin dan kawan–kawan. Selanjutnya nanti kami akan bersurat secara resmi menyampaikan hal ini ke pihak Mapolres Lombok Tengah,”imbuhnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Loteng, AKP Rafles J Girsang saat dikonfirmasi via seluler menyatakan mempersilahkan pihak Doni Bayangkari mengajukan penangguhana penahanan. Nantinya surat penangguhan penahanan akan dipertimbangkan. Namun yang jelas Polres Loteng sudah bekerja sesui prosedur perundangan dengan alat bukti yang cukup.

” Silahkan saja, itu kan hak setiap warga negara,” katanya.

Sebelumnya, Tiga fasilitator terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) yakni; Lalu Numansyah dari desa Kateng, Lalu Samsul Anwar dari desa Bagu dan Doni Bayangkari dari desa Marong.

Ketiga oknum kepada penyidik mengakui perbuatannya. Sebelumnya hal yang sama juga sudah mereka lakukan. Sebelumnya CV dimintai uang Rp.10 juta dan Rp.9,5 juta.

Barang bukti yang berhasil disita penyidik berupa uang Rp.5,2 juta, HP, serta bukti berkas pencairan dana proyek RTG dan 3 buah Hanphone.

Adapun modus dari dugaan pemerasan terhadap perusahaan pengerja proyek RTG ini yakni meminta uang kepada perusahaan lalu kemudian memberikan rekomendasi agar proses pencairan dana RTG bisa cepat dicairkan. Setiap unit rumah dipatok 2 persen dari dana pembangunan.

“ Karena kewenangannya, meminta kepada CV untuk pencairan dana bisa lancar dengan menyisihkan 2 persen [per unit rumah RTG],” terang Kapolres Loteng.

Adapun untuk pembangunan 1 Unit rumah RTG ini berkisar dari Rp.50 Juta Hingga Rp.15 Juta. Padahal dana tersebut masih sangat terbatas untuk pembangunan rumah RTG. Ditambah dengan dugaan pemerasan ini, maka akan berpangeruh terhadap kualitas pengerjaan proyek.

” Dampaknya pasti kualitas bangunan yang diterima oleh korban gempa tersebut menurun kualitasnya. Jadi kasian masyarakat yang sudah mendapatkan musibah gempa, masih dimainkan lagi oleh oknum-oknum tertentu untuk mendapatkan keuntungan tertentu,” tandasnya.

Atas perbuatannya, ketiga tersangka dikenakan UU tindak pidana korupsi dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 20 tahun penjara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here